Kamis, 01 Januari 2015

India lebih Transparan Mengenai Masalah Properti

India lebih Transparan Mengenai Masalah Properti




Ada dua faktor penting yang dapat mempengaruhi kebijakan sektor perumahan dan perekonomian Nasioanal yaitu transparansi dan prediksi. Akan tetapi masih banyak negara yang belum mencatat mengenai pertumbuhan pembangunan pada sektor perumahan secara transparan, serta mengukur dampaknya melalui Indeks Perumahan Baru ( Housing Start Up Index/HUSI).

HUSI India menunjukkan penurunan pembangunan perumahan pada tahun 2009 dan 2011 di kota-kota besar di India seperti Kolkata, Chennai, dan Bangalore. Namun, justru yang memperlihatkan peningkatan di Dehradun, Bhopal, dan Hubil. India adalah merupakan negara ke tujuh di dunia yang merilis HUSI. -

Menurut data HUSI, bahwa ledakan mengenai properti di India mengikuti pola klasik. Berawal dari kota-kota besar yang kemudian menyebar ke kota sekunder.

Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Australia, dan Selandia Baru, merupakan negara yang juga telah merilis HUSI. Negara-negara tersebut telah mengeluarkan indeks tersebut secara teratur dan berkala guna untuk mengevaluasi tren di sektor perumahan, dan untuk menganalisis dampak yang akan terjadi terhadap sektor industri perbankan, infrastruktur, dan konstruksi.

Jika dibandingkan dengan Indonesia negara-negara lain lebih transparan dalam masalah properti, sementara Indonesia jangankan membuat HUSI, untuk menetapkan jumlah kekurangan dan jenis rumah saja, masih menggunakan angka "kira-kira". Jika dalam menetapkan angka-angka prediksi saja Indonesia tidak jelas atau transparan lalu, bagaimana dapat memproduksi kebijakan perumahan yang tepat bila angka-angka prediksi tidak jelas dan transparan.

Menurut, Ketua Dewan Kehormatan Real Estat Indonesia (REI) Teguh Satria, defisit rumah rakyat atau lazim disebut backlog yang selama ini diberitakan, dianggap tidak jelas. Faktor dari ketidakjelasan tersebut berpengaruh terhadap kebijakan perumahan Nasional yang dibuat pemerintah. Pada akhirnya, arah kebijakan menjadi salah, dan kemudian dikatakan sesat.

Menurut Teguh, hingga tahun 2010 yang lalu kekurangan rumah mencapai hampir 13,9 juta. Dan jika diasumsikan per tahun kebutuhan mencapai hampir 700.000 sampai 800.000 unit, dengan demikian backlog kumulatif mencapai sekitar 15 juta.

Teguh menjelaskan pada saat seminar Pandangan Ke Depan Kebijakan Rumah di Tahun Politik 2014, bahwa “ itu baru dilihat dari segi jumlah yang hanya merupakan angka perkiraan atau asumsi, Belum lagi bila dilihat secara lebih jernih dan menghindari dikotomi, kebijakan dan implementasi, maka ketidakjelasan itu juga harus dijabarkan melalui perspektif segmentasi rumah yang mengalami disparitas tersebut,

Menurut Teguh, rumah dibagi dalan tiga segmen, pertama rumah milik, dan dikategorikan ke dalam dua kategori yakni rumah milik subsidi dan rumah milik komersial. Segmen yang kedua adalah rumah sewa dan yang ketiga adalah rumah sosial.

Jika dalam merumuskan segmen ataupun kategori rumah dan jumlah backlog saja masih kira-kira, lalu bagaimana bisa menghasilkan peta jalan (roadmap) pada suatu perumahan.

HUSI adalah sebagai langkah besar dalam membawa transparansi dan prediktabilitas. Sektor perumahan India, misalnya saja telah memberikan kontribusi 10 persen terhadap Product Domestic Bruto (PDB) .Selain itu, untuk sektor perumahan juga telah mempekerjakan, secara langsung ataupun tidak langsung, sebanyak 30 juta orang pekerja.

HUSI juga berfungsi sebagai indikator ekonomi dan alat utama bagi industri dalam merencanakan dan menyusun strategi, terutama industri terkait sektor properti seperti semen, konstruksi, tenaga kerja dan peralatan rumah tangga.

HUSI pertama India dikeluarkan pada tanggal 3 Februari oleh Departemen Perumahan dan Perkotaan Pengentasan Kemiskinan, dan Bank Sentral (Reserve Bank of India). Indeks tersebut mencatat dan mengevaluasi kinerja sektor perumahan di 27 kota pada tahun 2009 dan 2011. Berdasarkan dari analisis yang diperoleh maka jumlah kota yang dianalisa akan bertambah menjadi 300 pada tahun-tahun mendatang.

Diambil dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar